Tuesday, November 22, 2011

Tugas Kajian Puisi- analisis puisi "Lonceng Tinju"


ANALISIS PUISI
“Lonceng Tinju”
Karya Taufiq Ismail
Menggunakan Pendekatan Mimesis

MATA KULIAH KAJIAN PUISI
Dosen Pengampu: Dra. Sri Suhita


logo_clr








Disusun Oleh
Nur Malindah Lestari (2115101135)
Kelas 2A


Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Jakarta
2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya penulis telah menyusun makalah pengkajian puisi dengan pendekatan mimetik pada puisi yang berjudul “Lonceng Tinju” karya Taufiq Ismail.

Penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca. Ucapan Terima kasih kepada Ibu Dra. Sri Suhita selaku dosen pengampu mata kuliah Kajian Puisi, juga kepada teman-teman kelas 2A, dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan dalam penyempurnaan makalah yang lebih lanjut.

 Jakarta,   November  2011


      Penulis
 



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang

Di dalam sastra ada sebuah hubungan yang sangat erat antara apresiasi, kajian dan kritik sastra karena ketiganya merupakan tanggapan terhadap karya sastra.

Kajian (sastra) adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antarunsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu (Aminuddin, 1995:39). Saat pembaca sudah mampu mengapresiasi sastra, pembaca mempuyai kesempatan untuk mengkaji sastra. Namun, hal ini tak sekadar mengkaji. Karena mengkaji telah menuntut adanya keilmiahan. Yaitu adanya teori atau pengetahuan yang dimiliki tentang sebuah karya. Saat apresiasi merupakan tindakan menggauli karya sastra, maka mengkaji ialah tindakan menganalisis yang membutuhkan ilmu atau teori yang melandasinya. Tentang penjelasan mengkaji seperti yang diungkapkan oleh Aminudin (1995:39) kajian (sastra) adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antarunsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu.
Dengan adanya kajian puisi inilah, peminat sastra melakukan analisis yaitu membedah karya-karya puisi yang dibacanya. Sehingga unsur-unsur yang menyusun puisi tersebut dapat diketahui. Juga rangkaian hikmah yang ada di dalamnya. Dalam studi sastra ada sejumlah pendekatan yang dapat diterapkan oleh penelaah sastra. Bila kita bertolak dari empat cara pandang terhadap karya sastra seperti ditawarkan oleh Abrams, yakni karya sastra dilihat dari: (1) karya sastra itu sendiri, (2) pengarangnya, (3) semesta, dan (4) pembacanya, maka empat cara pandang itu menghasilkan empat pendekatan, yakni (1) pendekatan obyektif, (2) pendekatan ekspresif, (3) pendekatan mimesis, dan (4) pendekatan pragmatis.
Dalam makalah ini akan dilakukan pengkajian puisi yang berjudul Lonceng Tinju karya Taufiq Ismail.
Mimesis merupakan salah satu wacana yang ditinggalkan Plato dan Aristoteles sejak masa keemasan filsafat Yunoni Kuno, hingga pada akhirnya Abrams memasukkannya menjadi salah satu pendekatan utama untuk menganalisis sastra selain pendekatan ekspresif, pragmatik dan objektif. Mimesis merupakan ibu dari pendekatan sosiologi sastra yang darinya dilahirkan puluhan metode kritik sastra yang lain.
Mimesis berasal  bahasa Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik sastra mimesis diartikan sebagai pendekatan sebuah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Perbedaan pandangan Plato dan Aristoteles menjadi sangat menarik karena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkan antara persoalan filsafat dengan kehidupan ( Ravertz.2007: 12).

1.2     Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini, antara lain:
ü  Memenuhi tugas Kajian Puisi
ü  Mengetahui pengertian  puisi
ü  Memahami pendekatan mimetik
ü  Mengetahui analisis dari puisi Lonceng Tinju karya Taufiq Ismail

1.3    Rumusan masalah
1.     Sebutkan dan jelaskan pendekatan dalam mengkaji karya sastra!
2.     Analisis ”Lonceng Tinju” Karya Taufiq Ismail melalui pendekatan mimesis!

1.4    Kerja Analisis
1.         Merumuskan permasalahan dalam realita objektif melalui studi kepustakaan
2.         Menganalisis karya sastra secara objektif (otonom), kemudian menghubungkan hasil temuan dengan realita objektif
3.         Melakukan interpretasi terhadap hasil temuan.

BAB II
ISI

LONCENG TINJU
Taufiq Ismail
Setiap kali lonceng berkleneng
Tanda putaran dimulai
Setiap kali mereka bangkit
Dan mengepalkan tinju
Setiap teriakan histeria
Bergemuruh suaranya
Aku kelu
Dan merasa di pojok
Sendirian

Setiap lonceng berklenengan
Dan tinju mulai berlayangan
Meremuk kepala lawan
Terkilas dalam ingatan
Nenekku dulu berkata
“Jangan kamu mengadu ayam”
Dan bila aku menuntut ilmu
Di Kedokteran Hewan
Guruku menasihatkan
“Jangan kamu mengadu hewan”

Kini lagi, bel itu berklenengan
Aku tersudut, bisu
Dan makin merasa
Sendirian.

(Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, 1987:127)



2.1  Kajian Puisi dan Pendekatan

Kinayati Djojosuroto (2009:20) mengatakan bahwa puisi adalah suatu sistem penulisan yang margin kanan dan penggantian lariknya ditentukan secara internal oleh suatu mekanisme yang terdapat dalam baris itu sendiri. Dengan demikian seberapa lebar pun suatu halaman tempat itu ditulis, puisi selalu tercetak/tertulis dengan cara yang sama. Dalam hal ini, penyair yang menentukan panjang baris atau ukuran.

Dalam mengkaji ”Lonceng Tinju” karya Taufiq Ismail, penulis akan menggunakan pendekatan mimetik.
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mendasarkan pada hubungan karya sastra dengan universe (semesta) atau lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu. Perhatian penelaah adalah pada “the relationship between the work of art and the universe that it pretends to produce (hubungan antara karya seni dan realitas yang melatarbelakangi kemunculannya).” Dalam hubungan ini Lewis memandang seni sebagai tiruan dari aspek-aspek realitas, dari gagasan-gagasan eksternal dan abadi, dari pola-pola bunyi, pandangan, gerakan, atau bentuk yang muncul secara terus menerus dan tidak pernah berubah. (Lewis, 1976:46).
2.2    Analisis Unsur-Unsur Intrinsik Puisi
a) Tema
Puisi “Lonceng Tinju” karya Taufiq Ismail di atas mengungkapkan tema tentang kesendirian. Hal ini dapat kita rasakan dari beberapa bukti. Pertama, diksi yang digunakan bermakna kesendirian. Pada alinea satu menggambarkan sebuah gambaran situasi di arena tinju yang ramai, namun tokoh aku tetap merasa sendirian. Kata-kata lain yang mendukung tema adalah: Aku tersudut, bisu, Sendiri. Kedua, dari segi isi puisi tersebut menggambarkan sebuah renungan dirinya yang menyadari bahwa ia merasa sendiri dan trauma dengan pertinjuan.


b) Nada dan Suasana
Nada berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan (feeling) atau sikap penyair terhadap pembaca. Sedangkan suasana berarti keadaan perasaan pembaca sebagai akibat pembacaan puisi.
Nada yang berhubungan dengan tema kesendirian menggambarkan betapa penyair ingin menyampaikan kesendirian tokoh aku di tahun sang penyair menciptakan puisi tersebut. Berhubungan dengan pembaca, maka puisi “Lonceng” tersebut bernada sebuah ajakan agar pembaca menyadari larangan untuk mengadu hewan, apalagi mengadu manusia.
c) Perasaan
Perasaan berhubungan dengan suasana hati penyair terhadap tokoh aku yang dalam analisis ini penulis menghubungkan tokoh Aku sebagai Elyas Pical, seorang petinju dunia pertama dari Indonesia pada tahun 1980-an. Dalam puisi ”Doa” gambaran perasaan penyair terhadap tokoh Aku adalah perasaan terpojok, dan sendiri. Perasaan tersebut tergambar dari diksi yang digunakan antara lain: Aku kelu, Dan merasa di pojok, Sendirian, Aku tersudut, bisu.
d) Amanat
Sesuai dengan tema yang diangkatnya, puisi ”Doa” ini berisi amanat kepada pembaca agar menghayati hidup untuk tidak saling beradu atau pun mengadu hewan, apalagi mengadu sesama manusia, karena Tuhan mengharamkan manusia untuk mengadu hewan ataupun sesama manusia.

2.3   Realitas di Dalam Karya
Penulis mengkaji puisi Lonceng Tinju menggunakan Pendekatan Mimetik, maka penulis mengaitkan tokoh Aku dalam puisi ini dengan seorang pria yang berprofesi sebagai seorang petinju dari Indonesia, namun pria ini merasa telah kualat karena tidak mengindahkan perkataan neneknya dan nasihat gurunya saat ia masih kecil dulu. Puisi Lonceng Tinju ini menyingkap sebuah realitas yaitu adanya seorang laki-laki bernama Ellyas Pical yang pada tahun 1980-an terkenal sebagai petinju muda dari Indonesia yang pertama kali berhasil menjadi juara dunia pertama. Ellyas Pical telah menggeluti olahraga tinju sejak berusia 13 tahun, dengan berlatih sembunyi-sembunyi karena dilarang oleh kedua orangtuanya. Sebagai petinju amatir yang bermain di kelas terbang, ia kerap menjadi juara mulai dari tingkat kabupaten hingga kejuaraan Piala Presiden. Karier profesionalnya dimulai pada tahun 1983 dalam kelas bantam junior. Sejak itu, berturut-turut sederet prestasi tingkat dunia diraihnya, seperti juara OPBF. Atas kemenangan ini, Ellyas Pical menjadi petinju profesional pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar internasional di luar negeri.
Setelah terjadi pergulatan batin berbulan-bulan karena depresi pasca kekalahan melawan Galaxy, Ellyas Pical mampu bangkit dan merebut gelar IBF kelas bantam yunior kembali dari sang juara bertahan dari Korea Selatan. Gelar ini sempat bertahan sampai 2 tahun, hingga akhirnya Ellyas Pical harus terbang ke Ronoake, Virginia, Amerika Serikat untuk mempertahankan gelar melawan Juan Polo Perez dari Kolombia, (4 Oktober 1989, dan Pical harus menyerahkan gelarnya setelah kalah angka. Pasca kekalahan dari Perez, Ellyas Pical sempat bertanding non gelar sebanyak 3 kali, hingga akhirnya ayah dari Lorinly dan Matthew Pical ini pun sedikit demi sedikit menyingkir dari ring tinju. Ellyas Pical yang tidak sempat lulus SD ini kemudian bekerja sebagai petugas keamanan (satpam) di sebuah diskotik di Jakarta sedangkan istrinya berprofesi sebagai seorang dokter.
Ellyas Pical ditangkap pada 13 Juli 2005 oleh polisi karena melakukan transaksi narkoba di diskotik tersebut. Penangkapannya sempat menuai kritikan dari berbagai pihak yang menyoroti tiadanya jaminan hidup yang diberikan pemerintah kepada atlet yang telah mengharumkan nama negara itu. Ellyas Pical lalu divonis hukuman penjara selama 7 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Setelah bebas dari penjara, Ellyas Pical diterima bekerja di KONI pusat, sebagai asisten ketua KONI.
Dari sedikit penjelasan tentang biografi petinju Indonesia di tahun 1980-an Ellyas Pical di atas, penulis mengaitkan puisi Lonceng Tinju dengan Ellyas Pical yang Berjaya di tahun 1983. Namun Ellyas Pical harus mengakhiri masa jayanya itu di tahun emasnya yang ke-3. Saat ia Berjaya di atas ring, para penonton dari seluruh Indonesia mengelu-elukan dan membanggakan ia, teriakan histeria disertai suara yang bergemuruh hampir tak pernah absen dari pertandingannya. Namun setelah ia kalah, dan memutuskan pensiun dari dunia tinju, ia merasa sakit hati, karena tidak ada lagi perhatian terhadap dirinya dari pemerintah maupun pendukung-pendukungnya dulu. Hidupnya berubah drastis, dari kejayaan serba wah, berubah menjadi kehidupan yang susah yang harus ia hadapi.
Setelah Ellyas Pical pensiun, tiada lagi berita tentang dirinya, seakan rakyat Indonesia tak menghiraukannya lagi dan lebih memilih mengagung-agungkan pengganti dirinya. Ia pun merasa terpojok, merasa sendiri, tersudut, bisu meskipun dalam keramaian. Dari puisi tersebut dapat penulis tangkap bahwa tokoh Aku, atau dalam hal ini sebut saja Ellyas Pical merasakan traumatis, atau penyesalan akan takdir yang ia terima. Ia berprofesi sebagai petinju tetapi keluarganya menentang karirnya, neneknya maupun gurunya juga pernah menasihatinya agar tidak mengadu ayam ataupun hewan lainnya dengan maksud ia juga tidak akan mengadu dengan sesama manusia. Dalam puisi ini tokoh Aku merasa menyesal, sehingga ia terus teringat akan nasihat-nasihat yang diberikan padanya, karena mungkin saja apabila ia tak menjadi petinju, hidupnya tak akan terpuruk seperti ini.
Penulis mengaitkan hubungan antara Ellyas Pical dengan puisi Taufiq ismail ini karena pada tahun penciptaan puisi ini yaitu tahun 1987 berhubungan dengan masa lengsernya Ellyas Pical dari masa keemasannya pada tahun 1986. Didukung lagi dengan fakta bahwa setelah Ellyas Pical pensiun dari dunia tinju, ia bekerja menjadi satpam di sebuah diskotik, bahkan sempat menjadi pengedar narkoba demi menghidupi keluarganya akibat tidak adanya tanggung jawab atau jaminan hidup serta kepedulian pemerintah akan nasib atlet yang sudah pensiun seperti dirinya.



BAB III
Penutup

3.1  Kesimpulan

            Dari hasil pengkajian yang telah penulis lakukan, dapat disimpulkan bahwa puisi Lonceng Tinju karya Taufiq Ismail menggunakan pendekatan Mimetik.


3.2  Saran
                 Dalam proses mengkaji puisi memerlukan pemahaman dan penguasaan lebih terhadap pendekatan yang digunakan, unsur-unsur yang terkait dengan analisis struktur puisi, dan realitas terhadap karya sastra tersebut.
                 Oleh karena itu, setiap individu sebelum memulai mengkaji hendaknya mencari contoh-contoh dari pengaplikasiaan demi menguatkan pemahaman teori-teori yang menjadi dasar penelitian.


Daftar Pustaka

Djojosuroto, Kinayati. 2009. Teori Dan Pemahaman Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Book  Publisher.
Djojosuroto, Kinayati. 2009. Teori Apresiasi Dan Pembelajaran Prosa. Jakarta: Pustaka Book  Publisher.
http://radenpekik.wordpress.com
diunduh pada Selasa, 1 November 2011 Pukul 20.45 WIB

http://fatchulfkip.wordpress.com
diunduh pada Selasa, 1 November 2011 Pukul 21.05 WIB

http://id.wikipedia.org/
diunduh pada Selasa, 1 November 2011 Pukul 21.15 WIB



Tugas Kajian Prosa Fiksi-Mengkaji Cerpen "Bingkai" menggunakan penceritaan plot


ANALISIS CERPEN
“Bingkai”
Karya Kurnia Effendi
Menelisik harmoni cerita
Menggunakan Penceritaan Plot

MATA KULIAH KAJIAN PROSA FIKSI
Dosen Pengampu: Erfi Firmansyah, S.Pd M.A


logo_clr









Disusun Oleh
Nur Malindah Lestari (2115101135)
Kelas 2A


Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Jakarta
2011




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya penulis telah menyusun makalah pengkajian cerpen dengan penceritaan plot pada cerpen yang berjudul “Bingkai” karya Kurnia Effendi.

Penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca. Ucapan Terima kasih kepada Bapak Erfi Firmansyah, S. Pd M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Kajian Prosa Fiksi, juga kepada teman-teman kelas 2A, dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan dalam penyempurnaan makalah yang lebih lanjut.


Jakarta,     November  2011


         Penulis

 





BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Bentuk-bentuk karya sastra itu biasanya berupa prosa, puisi dan drama yang biasa disebut sastra. Berdasarkan sejarah perkembangan sastra di Indonesia, prosa dikelompokkan menjadi dua yaitu prosa lama dan prosa baru, berupa cerpen dan novel. Semua karya sastra termasuk cerpen merupakan sesuatu totalitas yang memiliki nilai seni. Totalitas itu dibangun oleh unsur-unsur pembangun yaitu dari unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Alur atau plot adalah urutan kejadian (peristiwa) cerita yang dipakai oleh pengarang untuk mengantarkan cerita kepada pembaca. Alur yang baik dan menarik kebanyakan berliku-liku dan dramatis.
Cerita Pendek (Cerpen) juga sebagai salah satu bentuk karya sastra yang dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, melibatkan permasalahan yang cukup kompleks. Dalam cerpen ada alur maju yang kronologis (urut waktu), ada alur mundur atau flashback yang menyorot balik cerita atau menulis cerita langsung ending baru balik ke masa silam. Alur juga mempunyai tahapan karena dengan tahapan itu pembaca bisa menentukan alur apa yang dipakai pengarang.
Oleh karena itu, alur merupakan unsur intrinsik yang sangat penting karena apabila alur itu bagus maka pembaca akan menikmati keindahan sastra tersebut. Melalui karya tulis ini penulis mengulas tentang sebuah alur dalam cerpen karya Kurnia Effendi yang berjudul “Bingkai”.

1.2    Tujuan Penulisan

  •   Memenuhi tugas Kajian Prosa Fiksi  
  •   Mengetahui pengertian cerpen  
  •   Untuk mengetahui alur yang digunakan dalam cerpen  
  •   Untuk memahami tahapan alur dalam cerpen

1.3     Rumusan masalah
    1.  Alur apa yang digunakan dalam cerpen “Bingkai”?
          2.  Bagaimana tahapan alur dalam cerpen “Bingkai”?

1.4 Pembatasan Masalah
       Mengingat ruang llingkup yang begitu luas dalam unsur-unsur intrinsik, maka penulis membatasi hanya membahas salah satu unsur intrinsik yaitu alur atau plot.



BAB II
KAJIAN TEORI

2.1  Pengertian Cerpen

Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau narasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).

Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan narasi fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan yang singkat namun padat.

Cerpen menampilkan sebuah fragmen kehidupan yang bersifat independen, bisa berdiri sendiri, utuh, tuntas, sudah dianggap selesai, mengandung kesatuan cerita dan peristiwa yang padu. Cerpen merupakan cerita yang habis dibaca sekali duduk, terdapat satu alur dan panjang 3-10 halaman.
Suatu hasil sastra dapat dikategorikan ke dalam cerita pendek harus dilihat dari ruang lingkup permasalahan yang ditampilkan dalam karya sastra tersebut. Biasanya cerpen hanya akan menampilkan suatu pokok permasalahan saja dalam cerita. Karena permasalahan yang ditampilkan hanya satu atau permasalahannya tunggal, maka tidak memungkinkan tumbuhnya digresi dalam cerita pendek. Cerpen yaitu kisahan yang memberi kesan tunggal yang dominant tentang suatu tokoh dalam latar dan satu situasi dramatik.
Predikat pendek pada kata cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu atau sedikitnya tokoh yang terdapat dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. Jadi, sebuah cerita pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek apabila ruang lingkup permasalahan yang persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek.

2.2  Ciri-ciri Cerita Pendek
Di atas penulis kemukakan bahwa masih banyak orang belum mengetahui ciri-ciri sebuah cerita pendek. Mengenai hal tersebut, di bawah ini penulis kemukakan ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997 : 36) sebagai berikut.
  • Bersifat rekaan (fiction) ;
  • Bersifat naratif ; dan
  • Memiliki kesan tunggal.
Pendapat lain mengenai ciri-ciri cerita pendek di kemukakan pula oleh Lubis dalam Tarigan (1985 : 177) sebagai berikut.
  • Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
  • Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
  • Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.
Menurut Morris dalam Tarigan (1985 : 177), ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut.
  • Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unity, and intensity).
  • Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, toko, dan gerak (scena, character, and action).
  • Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incicive, suggestive, and alert).

2.3  Pengertian Alur

Plot sebagai alur cerita yang dibuat oleh pembaca yang berupa deretan peristiwa secara kronologis, saling berkaitan dan bersifat kausalitas sesuai dengan apa yang dialami pelaku cerita. Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan alur/plot adalah suatu cerita yang saling berkaitan secara kronologis untuk menunjukkan suatu maksud jalan cerita yang ada.[1]
Alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang penekanannya ditumpukan kepada sebab-akibat. Untuk merangkai peristiwa-peristiwa menjadi kesatuan yang utuh, pengarang harus menyeleksi kejadian mana yang perlu dikaitkan serta mana yang kiranya harus dipenggal ditengah-tengah. Hal yang demikian berguna untuk lebih menghidupkan cerita menjadi menarik sehingga pembaca berambisi terus untuk menekuninya.
Alur dalam cerita kadang sulit untuk dicari karena tersembunyi dibalik jalan cerita. Namun, jalan cerita bukanlah alur. Jalan cerita hanyalah manifestasi bentuk wadah, bentuk jasmaniah dari alur cerita. Dengan mengikuti jalan cerita maka dapat ditemukan alur.
Alur bisa dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari awal, tengah, dan akhir terjadinya peristiwa. Tahap progresif bersifat linier. Jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atau puncak dan berakhir pada tahap awal. Tahap regresif bersifat non linier. Ada juga tehnik pengaluran flash back (sorot balik) yaitu tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Flash back mengubah tehnik pengaluran dari progresif ke regresif. Selain yang tersebut diatas ada juga tehnik alur yang lain yaitu tehnik tarik balik (back tracking) yang dalam tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang.
Alur yang menarik adalah alur yang tidak biasa, unik, spesifik, lain dari yang lain dan dramatis. Sedangkan tahapan alur sebagai berikut:[2]
1.      Tahap penyituasian/Perkenalan
2.      Tahap pemunculan konflik
3.      Tahap peningkatan konflik
4.      Tahap klimaks
5.      Tahap penyelesaian


BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Sinopsis

Dalam cerpen “Bingkai” diceritakan tentang perselingkuhan yang dilakukan seorang suami. Berikut ini sinopsisnya:

Pada suatu hari seorang pria bernama Dudi menerima telepon dari Susan, temannya sejak SMA dan juga selingkuhannya sejak dua bulan lalu. Susan meminta Dudi untuk datang ke Ubud, Bali karena ia akan membuka dan meresmikan sebuah galeri di Ubud. Dudi pun memikirkan berbagai macam cara agar bisa pergi ke Ubud tanpa membuat istrinya, Lanfang curiga. Akhirnya malam itu juga Dudi mengatakan bahwa ia akan pergi ke Lombok namun ia akan singgah terlebih dahulu di Bali. Lanfang pun memakluminya, Lanfang juga bercerita bahwa ia akan melakukan peliputan suatu pameran.

Setelah sampai di Bali, Dudi segera ke galeri Susan yang sudah penuh dengan wartawan dan tamu-tamu undangan. Kedatangan Dudi disambut pelukan dan ciuman bibir oleh Susan. Susan tidak malu melakukannya karena kebanyakan tamu undangannya adalah bule. Dengan cepat para wartawan membidik gambar mereka berdua. Lalu dudi pun melihat sekelilingnya apakah ada seseorang yang takut-takut ia kenali. Ternyata dari balik kamera yang menutupi wajahnya, terdapat raut muka kecewa Lanfang disana. Dudi melihatnya, Lanfang. Lanfang berlari keluar galeri, dan Dudi mengejar Lanfang tanpa lagi menghiraukan Susan.
.

3.2    Alur dan Tahapan Alur

Dalam cerpen “Bingkai” menggunakan alur maju karena jalan ceritanya kronologis atau urut waktu.

Untuk menentukan alur dalam suatu cerita kita harus mengetahui tahapan alur dalam cerita tersebut. Berikut tahapannya.
ü  Tahap Penyituasian/ Tahap Perkenalan, yaitu tahap yang berisi pengenalan siatuasi latar dan tokoh cerita:
Ulasan: Dudi mengangkat telepon dari Susan, Susan mengungkapkan rasa rindunya dan keinginan agar Dudi yang berada di Surabaya segera menemuinya di Ubud, Bali.
ü  Tahap pemunculan konflik yaitu tahap mulai dimunculkan peristiwa/masalah yang menyulut terjadinya konflik.
Ulasan: Terjadinya konflik batin dalam diri Dudi bagaimana caranya ia mengatakan pada Lanfang ia harus pergi ke Bali untuk menemui Susan tanpa harus Lanfang ikut pergi menemaninya dan tanpa membuat Lanfang mencurigai kepergiannya.
ü  Tahap peningkatan konfliks, yaitu konflik mulai berkembang mengarah ke klimaks.
Ulasan: Lanfang memotret Susan dengan pria yang ia cium, kemudian Lanfang menyadari bahwa pria itu adalah suaminya.
ü  Tahap klimaks, yaitu konflik atau pertentangan mencapai titik intensitas puncak.
Ulasan: Dudi melihat sosok Lanfang diantara banyaknya wartawan yang sedang menyoroti ia dengan Susan di Galeri baru Susan, dan Dudi mengejar Lanfang yang berlari keluar galeri.
ü  Tahap penyelesaian, yaitu konflik mulai menemukan penyelesaian.
Ulasan: Tidak ada tahap penyelesaian konfliks dalam cerpen ini.

Jadi untuk menentukan alur suatu cerita dapat dilakukan apabila telah memahami cerita tersebut secara keseluruhan.  Selanjutnya dipilah-pilah masing-masing urutan cerita sesuai tahapan masing-masing mulai dari tahapan pengenalan atau penyituasian, tahapan konflik, tahapan klimaks sampai tahapan penyelesaian.


Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas. Secara garis besar alur dibagi dalam tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir (Sayuti, 2000). Akan tetapi, dalam kenyataannya alur dalam sebuah karya fiksi disusun berdasarkan pilihan pengarang itu sendiri. Oleh karena itu, awal alur tidak harus merupakan awal cerita. Tergantung bagaimana pengarang memposisikan dan memainkannya.
1. Awal
Bagian awal dari sebuah alur biasanya merupakan bagian pengenalan cerita. Biasanya berisikan mengenai pengenalan watak tokoh dan setting cerita yang bersifat Eksposisi dan element instabilitas (Sayuti, 2009:7.8). Sepertihalnya potongan cerita dalam cerpen “Bingkai" di bawah ini:
UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga, ketika aku keluar dari ruang rapat. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus.
Dari kutipan cerita di atas sangat jelas sekali bahwa pengarang membuka cerita dengan terlebih dahulu memaparkan setting yang ada pada cerita tersebut. Namun pembuka cerita tersebut hanya bersifat memaparkan.
2.    Tengah
Tengah cerita berisikan konflik di dalamnya. Dari penyebab konflik sampai puncak dari konflik tersebut. Akan tetapi, penyebab konflik juga terkadang ditempatkan diawal cerita bagian akhir. Hal tersebut digunakan untuk memberi kesan keterikatan antara awal cerita dengan bagian tengahnya, sehingga tidak berkesan tidak nyambung. Konflik dibagi menjadi tiga jenis, yaitu konflik batin (tokoh dengan dirinya sendiri), konflik sosial (tokoh dengan tokoh lain), dan konflik alamiah (tokoh dengan alam dan lingkungan sekitar) (Sayuti, 2009:7.10). Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan tengah cerita berisikan pengenalan mengenai setting, watak tokoh, dan penyebab konflik utama. Semua itu tergantung bagaimana cara pengarang memainkan alur. Penjelasan singkat itu kemudian menjadi awal untuk masuk ke dalam konflik yang ada di dalamnya. Sepertihalnya potongan cerita dalam cerpen “Bingkai" di bawah ini:
Sepanjang sisa jalan pulang, yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali, rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Lanfang, tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan.

Jadi, mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali, agar tidak terlampau mencurigakan, isu itu harus kuembuskan ke telinga Lanfang sejak dini. Nanti malam, sebelum bercinta. Dengan demikian, tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. Tapi… astaga, bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi, karena waktunya masih lama, Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. Dengan cara itu, biaya penginapannya gratis, bukan?
3.    Akhir
Akhir cerita merupakan bagian penyelesaian semua konflik yang ada di dalam karya fiksi. Pada bagian akhir pula biasanya dapat disimpulkan sebuah karya fiksi tersebut merupakan karya yang bersifat happy ending atau tidak. Selain itu, pada akhir juga biasanya pengarang memberikan penggambaran kembali mengenai settingnya, yang tentunya telah mengalami perubahan akibat konflik yang ada. Atau terkadang berisi kesimpulan mengenai tema yang diceritakan.
Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan, karena segera bergegas mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya?

"Lanfang!" aku memanggil.
Di luar sunyi, tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh.

Namun dalam cerpen ini tidak ada tahap penyelesaian konflik.


BAB IV
PENUTUP

4.1    Kesimpulan
  
Cerpen yang berjudul “Bingkai” menggunakan alur maju sebab tahapan  
alurnya kronologis atau urut waktu yang terdiri dari:
1.      Tahap penyituasian/Perkenalan
2.      Tahap pemunculan konflik
3.      Tahap peningkatan konflik
4.      Tahap klimaks


4.2    Saran

Dalam proses mengkaji cerpen memerlukan pemahaman dan penguasaan lebih terhadap penceritaan yang digunakan. Oleh karena itu, setiap individu sebelum memulai mengkaji hendaknya mencari contoh-contoh dari pengaplikasiaan demi menguatkan pemahaman teori-teori yang menjadi dasar penelitian.

Kami sebagai penulis berharap agar karya sastra seseorang dihargai dan dihormati, salah satunya dengan cara menganalisis unsur-unsur karya sastra, karena dengan cara tersebut seseorang akan mengetahui keunggulan dari karya sastra tersebut.




DAFTAR PUSTAKA

Abdul Somad, Adi, dkk. 2007. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas XII SMA/MA. Bandung: Departemen Pendidikan Nasional

Ambarwati, Sri. 2009. Kreatif Bahasa Indonesia Kelas XI. Klaten: Viva Pakarindo.

Diunduh pada Sabtu 5 November 2011 Pukul 16.55 WIB

Diunduh pada Sabtu,5 November 2011 Pukul 17.05 WIB

kafeilmu.com/tema/pengertian-plot-dan-alur-cerita.html
Diunduh pada Sabtu,5 November 2011 Pukul 17.25 WIB



[1] Menurut Dick Hartoko, 1948:149
[2] (diunduh dari http://unsilster.com/ pada Sabtu 5 November 2011)
 

Friday, April 22, 2011

finally, we met again :)

wahh..... finally,, after more than a year, we met again! yeah.. :D

hehee.. i mean, it was so long time ago i never write anything about my daily activities since i knew facebook..

you know, facebook make me addict, till here.. coz i prefer to write anything i feel through facebook. yep yep...


there'r so so soo many thing i wanna tell.. maybe, i can write them all after i have enough time to relax.. i'll let you know.. i'm so busy right now.


this is my facebook account, u may add me here..


Saturday, August 30, 2008

selamat berpuasa

akhirnya bulan ramadhan yang penuh berkah dan kemuliaan datang lagi.. senang sekali rasanya q bisa menyambut bulan ramadhan dengan tag kurang satu apapun jua...

mohon maav lahir batin..
smoga dibulan yg suci ini ..
Allah senantiasa memberikan yg terbaik utk kita smua..
amiin...